Wednesday, November 11, 2009

Kontroversial

"Apa yg akan terjadi jika kamu menjadi "seseorang" kelak, lalu orang lain menemukan foto2 kontroversial anda di social network seperti FB? so please think twice before you upload your photo(s), cheers :) "

Itulah yang menjadi status saya akhir2 ini di Facebook. Kenapa? Ya saya sangat prihatin dengan orang2 sekarang yg terkena skandal foto2 kontroversial mereka. Well, disatu sisi mereka itu korban. Korban dari keisengan orang. Tapi disatu sisi mereka itu juga bego. Kenapa bego? Ya itu, upload foto2 "ga jelas".

Entah nyari sensasi ato gimana. Beberapa orang (terutama cewek, hey girls you ought to read this) kayaknya demen banget nyari sensasi. Mulai dari update status yang "menjurus", sampai upload foto2 yang menunjukkan bagaian tubuh tertentu (ga usah dijelasin pasti ngerti lah) ato aktifitas lain yang masih dianggap tabu oleh masyarakat. 

Saya pribadi dan beberapa teman saya (cewek dan cowok) pernah ngadain surprise ulang tahun seorang teman disuatu hotel. Berhubung saat itu saya punya kamera baru, saya doyan banget jepret sana jepret sini. Tiba2 seseorang menyeletuk, "Eh ga usah diupload. Kalo misalnya gw jadi mentri ntar, trus nemu foto qt di kamar hotel, what might people think? Walaupun sebenarnya we were doing nothing." I couldn't agree more. Teman saya benar. Apa jadinya kalau salah satu dari kami menjadi "orang penting" di negeri ini, lalu tersebar foto2 cewek dan cowok di kamar hotel (although we only celebated someone's birthday). Di media massa manapun akan tersebar, dan headline menulis "Skandal masa lalu mentri X (atau CEO perusahaan X), bertindak mesum dengan teman2nya". Walaupun sebenarnya hanya sebuah foto narsis (dengan baju lengkap, tertutup pula), but hey...politic will talk outside the fact. *saat itu juga saya turned off the camera dan pergi dari tempat itu, immediately.

Jadi intinya, jangan pernah sekali pun upload foto "gila" kalian ke publik (terutama bagi yang selalu confirm orang yg ga dikenal di FB). Lebih aman lagi, jangan pernah bertindak "aneh" di depan kamera.

cheers,






Saturday, October 24, 2009

Let's Change

Inget pelajaran waktu SD? A caterpillar(samacam binatang melata yang menjijikan, eeww...) can change itself become a beautiful butterfly.

Dari ulet (saya ga mau upload gambar ulet :p ) berubah manjadi....



terus....Taaadddaa....dari kepompong bisa berubah jadi kupu-kupu nan cantik


Jadi yang bisa kita pelajari adalah if you have great motivation to be someone new, to be better. You should change yourself. It can be started from the very basic and believe me it will bring great impact in your life. Contohnya kalau biasanya kamu sering telat dateng ke kampus, terus kamu merubah kebiasaan telat itu dengan dateng lebih awal ke kampus. Then we'll see, the lecturer will apreciate you, you don't have to drive in a rush to get to the campus and you can influence your friends to go earlier too. Wow...Let's imagine if a person do this and he can influence others, dijamin deh di Indonesia ga bakal dikenal istilah jam karet. See...how a little thing can change the world :) You can do it, guys.

So if you're aged between 15 to 35 long on to www.youthsays.com/seachange to join 1 MILLION youth across Southeast Asia (SEA) and say YES to CHANGES!
By doing so, you and your friends stand a chance to win a FREE trip to meet top global change icons at the Youth Engagement Summit (YES) 2009 on November 16 & 17 in Kuala Lumpur. Rewards include return air flights, full accommodation and delegate passes worth in excess of US$2,500 each.


If nothing ever changed, there'd be no butterflies.
(Unknown)


the photo cedits to here and here

CHANGE

We can never really change someone; people must change themselves. But we can help. We can be a resource. We can nurture, encourage and support.
-Stephen R. Covey-

Friday, October 23, 2009

About my recent activities

fufufu...tampaknya blog saya satu ini berdebu. Sudah lama tidak mampir, semenjak komputer di IUP office dipindapindahin ke student affair office :sigh: Sebab hanya mengandalkan koneksi internet di kosan adalah hal yang sia-sia. Kenapa? Ketika tiba2 munculnya ide di kepala mau nulis apa di blog mulai berkecamuk, tapi dikarenakan menunggu loadingnya amat sangat lambreta, tiba2 ide tersebut hilang. Lupa mau nulis apa.

Anyway, kalau ada yg nanya saya sekarang sibuk apa? (yah, sukur2 ada yg nanya. Enggak juga gpp) Saya sekarang lagi sibuk2nya urusan kuliah. Setiap mata kuliah yg saya ambil require group presentation, group assignment etc. Tapi semester kali ini saya bakalan nekat. Saya nekat ikut UKM Tari Bali. Yah, saya memang nekat. Saya sama sekali ga ada basic Tari Bali, tapi saya nekat. Saya pengen bisa :) Apa jadinya klo someday saya ke belahan negara lain, dan ketika ditantang untuk nari, saya malah cuma bisa nari poco-poco.

Aktivitas baru saya lainnya itu saya mulai aktif hunting foto sama teman dan senior saya. It was fun. Senang akhirnya bisa mengenal lebih jauh tentang kamera saya, fungsi dari setiap bagiannya, soalnya selama ini saya make kameranya hanya berbasis insting. :grins: Dan semoga saja kemampuan saya bertambah, apalagi kali ini saya daftar UFO. yay! finally!

Woohoo...hampir lupa. Kali ini saya sedang merencanakan untuk les bahasa Prancis :D Doakan saja saya bakal punya banyak waktu, biar ga sering bolos les. ehehehe...I even can't wait for the first class meeting :)

What's next? Oiya, abis mid term kali ini, Sebuwl Semprit (ga tau tulisannya bener ato ga) mau go public. I mean, selama ini kan SS ngumpul cuma ngumpul2 doank, cuma menampung ide, nah kali ini SS bakal bergerak. Kita bakal mengunjungi tempat2 yang membutuhkan bantuan. 

Sekian dari saya, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih :D

Tuesday, September 15, 2009

Izinkan Saya Curhat

Saya baru menyadari....Saya amat sangat merindukan teman-teman saya yang pada DD (Double Degree) tanpa terkecuali. I am close to tears. Walaupun salah satu dari mereka pernah bilang, "ah kan cuma setahun aja sih, paling tahun depan udah ketemu lagi". Asal kalian tahu aja ya, baru sebulan mulai kuliah aja I felt something left. Kadang2, saya suka bayangin di barisan depan ada Essil, Amy, Boim. Ada Setry yang suka kasi comment ke dosen. Ardhi sama Besti lagi tekun mencatat. Rani lagi ketawa cekikikan di bangku belakang. Decky lagi tidur di kelas. Dan huff...Damn, nunggu setahun lama amat.

Walaupun kalian kadang2 nyebelin, bikin gondok, bikin sakit hati, bikin sakit jantung (halah!), tapi tetep saya sayang kalian semua. Buruan balik ke Indonesia, yang di Eropa jangan kelamaan Euro Tripnya, yg di Aussie jgn belajar terus disana.






*ya ampun saya cengeng bgt


xoxo,

Monday, September 7, 2009

In the mood to dance

Saya sedang kepikiran untuk belajar nari tradisional lagi. Serius! Oh well, saya sendiri ga bisa bayangin how it will be.

Sebenarnya nari tradisional bukan hal yang asing buat saya. Dimulai zaman saya masih imut2 menggemaskan di bangku TK, satu hal yg saya ingat, saya nari tarian bali. Tapi perlu digaris bawahi, sebagai cowok. Jadi jangan tanya gimana caranya bisa nari sambil mata mendelik2 gt, lol.

Dilanjutkan dibangku SD, saya setiap Jumat dan Sabtu sore ikut extra tari. Tapi kali ini jenisnya tarian Sumatra atau tarian Melayu. Dan apesnya, saya ga pernah kebagian jatah manggung :sigh: Kenapa? Entahlah, keseringan bolos kali. Tapi, it's ok. Yang menting dapat ilmunya.

Waktu SMP, kayaknya saya absen di dunia tari menari dikarenakan saya berubah menjadi pribadi yang sibuk (*tsah!). Nah, menurut saya, karir menari saya justru berada di puncaknya waktu saya SMA kelas 1. Well, agak lebay sih. Tapi menurut saya, itu merupakan mencapaian yg luar biasa buat saya. Pertama kalinya saya nari tarian Jawa yang lemah gemulai (tarian Banyuwangi, yah walaupun banyak ter-influence oleh tarian Bali). Belajarnya hanya via VCD, ga ada yang ngajarin (paling dibantu sama mamanya temenku). Waktunya mepet banget, cuma sebulan atau dua bulan gitu. Wardrobe dan urusan dandan, diurus sendiri. Dan sukses besar!

Sebenarnya latar belakang saya nari tradisional itu karena faktor tugas kesenian. Gurunya sih cuma kasi tugas untuk nari. Ga peduli tarian modern ato tradisional. Pokoknya nanti harus bisa mentas. Dan satu hal yang perlu kalian tahu saudara-saudara sekalian, cuma 1 kelompok yang nari tarian tradisional. CUMA SATU! Dari sembilan kelas, yang dibagi kira2 delapan kelompok, cuma satu yang nari tarian tradisional. Yaitu kelompok saya :D Yang lain, nari ato bisa dibilang joget ala boyband, ala hiphop, ala Britney Spears. Jadi bisa saya simpulkan, jangan marah ya kalau Malaysia lebih cinta sama budaya kita.

Kesimpulan saya diatas merupakan salah satu faktor yang mendorong saya untuk memulai untuk belajar nari lagi. Selain itu, ketika saya menemani tamu saya dari negeri Malaysia untuk nonton Sendratari Ramayana di Candi Prambanan, saya dibuat takjub dengan gerakan2 apik para penarinya (beugh, lebay kumat), tiba-tiba saya gatel pengen nari lagi. Kali ini saya mantap saya mau nari tarian Bali lagi :D Walaupun saya masi penasaran buat bisa nari Saman. 


       xoxo,