Sunday, June 19, 2011

Randomness About Turkey

Sebelum berangkat ke Turki, saya sudah menangkap berbagai gambaran tentang negara tersebut. Semuanya saya tangkap dari hasil obrolan bersama teman dan browsing di internet. Ada beberapa ekspektasi yang melenceng dan saya rasa kalian semua harus tau itu :)

Disclaimer: Btw, saya jauh lebih banyak menghabiskan waktu di Izmir. Jadi bisa saja tulisan saya ini hanya mewakilkan situasi dan kondisi di daerah sekitaran Izmir saja :)

Turki bukan negara Islam

Iyes, Turki bukan negara Islam walaupun mayoritas penduduk beragama Islam. Turki juga bukan termasuk negara Arab juga. Tulisan mereka juga pakai huruf latin (kecuali pas zaman kekaisaran Ottoman).

Jadi, Turki adalah negara yang sekuler semenjak rezim kekaisaran Ottoman digulingkan oleh Atatürk. Sekuler dalam arti memisahkan soal pemerintahan dengan agama. Seperti Indonesia, Turki adalah negara demokratis. Menurut saya pribadi nih ya, jauh lebih sekuler Turki dan jauh lebih religius Indonesia, lho.

psst: Pasti ga pernah denger kan kalau kemarin2 pemakaian simbol agama seperti jilbab dan rosari di larang di area kampus dan institusi pemerintah di Turki?

Gak susah untuk mendapatkan minuman berakohol di Turki.

Nyaris setiap toko pasti jual Rakı atau Efes. Bar dan night club pun juga berjamuran. Anak-anak mudanya pada suka nongkrong di bar atau night club. Gak heran kalau selama saya tinggal di sana sering banget dapet invitation party. Sayangnya, saya lebih doyan nongkrong di kafe bareng teman-teman sambil ngobrol atau kalau enggak ya di rumah, tidur.

Smoke like a Turk

Beuh, orang Turki tuh doyan banget ngerokok. Cewek-cowok, tua-muda pada doyan ngerokok. Btw, ngerokok disini tidak terbatas hanya pada rokok (cigarette) lho ya, tapi juga termasuk nargile/hookah (kalau di Indo lebih terkenal dengan istilah Sisha).

Entah karena memang sudah menjadi budaya atau gimana, beda sih ya sama di Indonesia, kalau di Turki ga ada tuh label kalau cewek perokok tuh cenderung "nakal". Dan jangan salah juga, cewek berhijab pun tidak jarang kedapatan ngerokok :p

Syukurlah, di dalam bis, metro dan ferry tidak diperbolehkan untuk ngerokok. Kalau iya, yakin banget paru-paru saya udah persis sama perokok kelas kakap. Ya gini, nasib perokok pasif....

Eat like a Turk

Edyan! Orang Turki kalau makan tuh banyak banget. Ga pernah cukup satu porsi. Ga cukup satu menu. *glegekan*

  • Teman saya, Ugur, ganteng tapi kalau makan kayak orang belum makan seminggu. Tiga porsi bisa habis dalam sekali makan.
  • Host family selalu menghidangkan berbagai macam menu di meja. Itu harus dimakan semua. Mereka pun tidak segan-segan akan menuangkan makanan berkali-kali ke piring saya.
  • Warteg Abi. Sekali makan cukup 5TL (which is termasuk murah di sono) dan porsinya porsi kuli!
Dan saya super duper iri sama cewek-cewek sini. Walaupun makannya porsi barbar, tapi tetep badannya aduhai...

Kalau nyetir, ampun!

Edan lah pokoknya. Suka penasaran gimana cara mereka dapet driving license. Kebut-kebutan di jalan dalam kota, duh!

Berhubung ga ada tukang parkir di sana, jadi orang cenderung ngasal gitu aja kalau parkir. Parkir di trotoar? boleh. Parkir dekat belokan? silahkan. Parkir di tanjakan curam? Jangan takut. Jarang ada tuh parkir kayak kita yang roda dan body mobilnya harus lurus atau mikirin apa mobil mereka ganggu pengguna jalan lainnya atau enggak.

Tapi kalau ngasih kesempatan pejalan kaki untuk nyebrang....TOP! Kasih jempol empat biji dah.



Yak, ini baru sepenggal cerita dari Turki. Semoga yang lainnya segera menyusul. güle güle

0 comments: